Langsung ke konten utama

Postingan

CERPEN : HARGA SEBUAH TAKDIR

HARGA SEBUAH TAKDIR Oleh : Dilla F. Widowati Mobil Anda memasuki pelataran rumah. Sepi. Gadis semester 6 dari salah satu perguruan tinggi di Jakarta itu menengok jam yang melingkar di tangan kirinya. Pantas saja sepi, sekarang sudah pukul 11 malam. Ia memarkir mobil di garasi kemudian bergegas memasuki rumah. Tak perlu mengetuk pintu, sebab ia punya kunci rumah itu. Lampu ruang tengah sudah mati. Gelap. Anda melangkah pelan dengan hati-hati. Takut mengganggu tidur penghuni rumah. Langkahnya terhenti di depan sebuah kamar yang letaknya tak jauh dari ruang tamu. Pintu kamar itu terbuka separuh. Anda melangkah mendekati pintu. Ia menatap seorang lelaki seusianya yang tidur meringkuk dengan lampu kamar tetap menyala terang. Ia hendak masuk, namun tangan seorang perempuan paruh baya menariknya. Anda spontan menoleh. “Mamah? Kok belum tidur?” suara Anda sedikit berbisik. Takut laki-laki yang tengah tertidur pulas itu merasa terganggu. “Mamah nungguin Anda” Anda ...
Postingan terbaru

CERPEN : MENGAPA DIMAS?

MENGAPA DIMAS ? Oleh : Dilla F.  Widowati Air mataku jatuh seiring sesak yang terus mengimpit dada. Di tengah kerumunan asing ini, aku yakin tak ada yang peduli padaku. Biarlah aku menangis. Toh mereka semua tak mengenalku. Aku terduduk di pojok ruangan yang ramai, namun terasa sepi bagiku. Aku mencuri pandang ke sekeliling sambil berusaha menahan air mata yang tak juga mau berhenti mengalir. Semuanya tampak bahagia, hanya aku saja yang tak bisa menahan gejolak, untuk terus berduka. *** “Mbak Sarah ya?” “Eh, iya. Kamu pasti anak baru yang katanya pindahan dari kantor cabang itu ya?” “Iya Mbak. Kenalin nama saya Dimas” “Selamat datang di kantor pusat ya Dim, semoga betah” “Makasih Mbak Sarah. Oiya, saya belum kenal staff-staff yang ada di sini, kalau saya kesusahan, boleh minta bantuan Mbak Sarah ya?” “Oh ya boleh dong. Udah tugas saya kali bantuin kamu. Kan kamu masuk divisi saya. Oh iya Dim, jangan panggil...

CERPEN : MENGASUH KEBAHAGIAAN

MENGASUH KEBAHAGIAAN Oleh : Dilla Fitri Widowati Aku terperanjat ketika Dinda, putriku yang kini tengah duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar mengajukan sebuah pertanyaan padaku. Sore itu, aku sedang berdiri melamun menghadap jendela, menyaksikan kerumunan awan sisik mengekor angin ke barat. Pertanyaan Dinda yang singkat, padat, dan menohok, tak ayal membuatku tergagap. “Ibu, kenapa diam saja?” Dinda kembali bertanya. “Dinda, sore ini dingin sekali. Ibu harus menyiapkan air hangat untukmu mandi. Kalau tidak, putri ibu yang cantik ini bisa masuk angin”. Aku tak tahu harus bilang apa pada Dinda. Aku berlalu, bukan ke dapur untuk merebus air, tetapi ke kamar untuk menumpahkan air. Air mata yang kutahan sedari tadi. Sebenarnya pertanyaan Dinda sangat sederhana. Dia hanya menanyakan mengapa orang tuanya tak punya foto pernikahan. Tapi, untuk pertanyaan sesederhana itu, aku tak punya jawaban untuknya. Air mataku tumpah ruah. Diiringi hujan y...

AKU SUKA HUJAN

AKU SUKA HUJAN Oleh : Dilla Fitri Widowati Aku suka hujan Karena dalam iringannya kita pernah bersua Aku suka hujan Sebab kau adalah pawangnya Kita pernah bersua di tengah rerintiknya Bersitatap dan memaku pandang Ditemani sayup reranting saling bersambut dengan tetes air Tak lama, hujan usai Meninggalkan kita yang masih terpaku Lalu aku bertanya, kenapa hujan cepat pergi Kau bilang, ia takut padamu Sejak hari itu aku suka hujan Sebab kau adalah pawangnya Hujan akan membawamu datang Menemuiku yang menantimu di setiap mendung dan terang Hingga aku tersadar Bahwa aku tak bisa menemuimu sesuai inginku Surakarta, 12 Oktober 2017

JILBAB MERAH MUDA

JILBAB MERAH MUDA O leh: David Kurnia Wijaya Semangat menggugah birahi nan suci Melangkah menuju debur ombak tanpa niscaya Sukacita merekah bersama sang surya Samar-samar menyapu bumi Yang dimulai dari ufuk timur Beralaskan sepatu jero tapak meri Kusibak rumpun embun tersusun rapi Dan menyisakan tapak berjejer bak bulir padi Kumasuki ruang hampa tanpa gema Suara terserap padatnya serat sutera Duduk paling belakang dan pojok Bersila menanti wahyu tercurah Ketika ego berimplikasi Mataku melesat, terpaku pada jilbab merah muda, berbaju motif kotak-kotak merah muda pula yang duduk paling depan dan pojok kiri Kepala tak dapat kutolehkan kekanan Mencoba membuang perhatian Sia-sia, tak ada guna tak ada bisa Kambing, sebutan hangat kawan lama Entah apa yang membuat dia disebut Kambing Persetan dengan julukan itu! Yang jelas, dia membuka ingatanku Ingatanku terhadap kawan lamaku “Kawan atau teman?” Teman tapi mesra tepatnya Eh.. Cuk asu! Kenapa mekar dan...

AWAN-AWAN SISIK

AWAN-AWAN SISIK Oleh: Dilla Fitri Widowati Terkadang aku ingin sekadar menikmati cuaca pagi bersamamu Meneguk pahit manis kisah hari lalu di beranda Berdua saja Hanya kita Lalu kita saling menatap Memastikan bayangan siapa yang hinggap di pelupuk masing-masing Saat kudapati bayangku ada di situ Aku akan tersenyum untukmu Senyum yang katamu mampu memikatmu di kali pertama bertemu Di beranda, Kita akan sama-sama menengadah Memaku pandang ke arah awan-awan sisik bulan Januari Itu hanya sebuah ingin Yang kusemat bersama embun di setiap awal musim Berjalanlah terus Sampai kelak Tuhan menuntunmu tiba di pekarangan rumahku Yang bermahkota embun dalam genggammu Blitar, 24 Januari 2017

AKU AKAN KEMBALI

AKU AKAN KEMBALI Oleh: Dilla Fitri Widowati Aku pernah menjalani kepergian berkedok sementara Namun, sayangnya dalam kesementaraan itu, Aku tak pernah diminta kembali Kali ini, aku kembali harus pergi Namun, tenanglah Aku akan kembali tepat waktu nanti Mengapa? Karena telah kau semat hasrat teramat pada koper-koperku Di mana pada setiap inchi langkahku, Akan teriring juga hasratmu itu Dapat kurasa dalam sudut senyummu di senja itu Kau memaku setiap jengkal tekadku Hanya dengan segaris senyum Mengalir deras, tanpa jeda, tanpa batas Aku pun tegas menghardik keliaran inginmu Aku akan kembali Ini bukan sebuah khayalan Toh Tuhan tak mematok harga untuk itu  Aku akan datang, Memeluk dirimu sangat erat Hingga aku lupa cara untuk sekadar merenggangkannya Saat itu, aku takkan tahu kabar dunia Sebab sejak kita memutuskan untuk bersama, duniaku telah kau sandera Blitar, 03 Januari 2017 23.10 WIB