Langsung ke konten utama

CERPEN : HARGA SEBUAH TAKDIR

HARGA SEBUAH TAKDIR
Oleh: Dilla F. Widowati

Mobil Anda memasuki pelataran rumah. Sepi. Gadis semester 6 dari salah satu perguruan tinggi di Jakarta itu menengok jam yang melingkar di tangan kirinya. Pantas saja sepi, sekarang sudah pukul 11 malam. Ia memarkir mobil di garasi kemudian bergegas memasuki rumah. Tak perlu mengetuk pintu, sebab ia punya kunci rumah itu. Lampu ruang tengah sudah mati. Gelap. Anda melangkah pelan dengan hati-hati. Takut mengganggu tidur penghuni rumah. Langkahnya terhenti di depan sebuah kamar yang letaknya tak jauh dari ruang tamu. Pintu kamar itu terbuka separuh. Anda melangkah mendekati pintu. Ia menatap seorang lelaki seusianya yang tidur meringkuk dengan lampu kamar tetap menyala terang. Ia hendak masuk, namun tangan seorang perempuan paruh baya menariknya. Anda spontan menoleh.

“Mamah? Kok belum tidur?” suara Anda sedikit berbisik. Takut laki-laki yang tengah tertidur pulas itu merasa terganggu.

“Mamah nungguin Anda”

Anda tersenyum. Melangkah mengekori ibunya yang berjalan menuju dapur.

“Dia habis minum obat Nda. Jadi tertidur begitu. Jangan diganggu”

“Anda cuma pengen lihat kok Mah, nggak ganggu”

“Anda nggak usah mandi ya. Udah malem”

“Siap. Tapi, Mamah mau ngapain ke dapur? Haus?”

“Mau bikinin Anda susu. Anda capek kan? Habis minum susu langsung tidur ya. Besok kan kuliah pagi”

Anda tersenyum.

Ibunya selalu begitu. Sepertinya, di mata perempuan paruh baya itu, Anda masih anak kecil yang harus selalu dimanja. Waktu memang berlalu sangat cepat. Disadari atau tidak, Anda sudah berusia 21 tahun sekarang.

***

Pagi itu udara terasa segar. Tadi malam setelah menegak habis segelas susu coklat panas buatan ibunya, Anda tidur dengan nyenyak. Pagi ini tubuhnya terasa lebih segar. Setelah bersiap-siap, Anda berjalan menuju ruang makan. Sarapan sudah tersedia. Ibunya juga sudah menunggu. Anda tersenyum menatap ibunya yang semakin hari justru terlihat semakin bercahaya. Perempuan itu, sepanjang hidupnya telah menjadi pahlawan bagi keluarga, terlebih setelah kepergian sang kepala keluarga, 10 tahun silam. Anda biasa sarapan berdua saja dengan ibunya. Satu anggota keluarga lain kondisinya sedang kurang baik, hingga lebih banyak menghabiskan waktu di kamar.

Setelah menghabiskan sarapan, Anda bergegas pergi ke kampus. Ada jadwal kuliah pagi hari ini. Namun, langkah Anda terhenti di depan kamar dekat ruang tamu. Persis seperti yang dilakukannya tadi malam. Tubuh laki-laki itu masih saja meringkuk. Semakin hari ia terlihat semakin kurus. Anda melangkah masuk ke dalam kamar itu dan duduk di tepi ranjang. Sepintas laki-laki itu sempat bergerak, namun tidak mengacuhkan Anda. Anda membelai rambut laki-laki itu sambil berbisik.

“Aku berangkat kuliah dulu ya. Assalamualaikum”

Tidak ada jawaban. Anda beranjak meninggalkan kamar laki-laki itu. Pintunya dibiarkan terbuka separuh seperti biasa. Anda menghela napas panjang, melangkah menuju garasi mobil. Suara mesin mobil terdengar dihidupkan, dan bersamaan dengan itu keluar suara lirih dari laki-laki yang tidak mengacuhkan Anda tadi.

“Waalaikumsalam, Nda” senyum tipis melengkung di ujung bibirnya.

Hari itu berjalan baik, setidaknya sebelum kacau oleh sebuah undangan. Undangan yang merenggut banyak tawa di rumah Anda. Anda berjalan menuju parkir mobil. Kuliahnya hari ini sudah selesai. Ia ingin cepat pulang. Namun, sebuah suara mengejutkan Anda.

“Diandra! Tunggu!”

“Lisa, ada apa?”

“Nih, tadi Mira nitipin ini. Buat kamu. Tapi kamu harus cepet pulang sebelum terlambat”

“Undangan? Kok dia nggak kasih ke aku langsung? Terus kenapa harus cepet pulang sih?”

“Duhh, pokoknya kamu sekarang harus pulang. Aku tadi denger dia mau anterin undangan yang sama ke rumah kamu”

“Apa? Sial!”

Anda berlari menuju mobilnya. Undangan digenggamannya sudah tak berbentuk. Diremas sejadi-jadinya. Anda kalap. Ia memacu mobil dengan kecepatan tinggi. Beruntung, semuanya belum terlambat. Ia melihat mobil Mira hendak memasuki halaman rumahnya. Anda buru-buru memotong jalan tepat di depannya dan berhenti. Mira yang menyetir dengan santai sontak tercekat. Anda dan Mira turun dari mobil hampir bersamaan.

“Kamu apa-apaan sih Nda?!”

“Heh, kamu yang apa-apaan! Beraninya datang ke rumahku nganter undangan. Kamu pikir kamu siapa?” Anda naik pitam.

“Aku mau kasih undangan buat tante Ratna sama Andi. Itu aja kok”

“Kan kamu bisa nitipin undangan itu ke aku. Nggak usah ke sini!”

“Kalau aku titipin ke kamu, nggak akan sampai ke tangan mereka”

“Kamu pikir dengan kamu datang ke sini, undangan itu akan sampai ke tangan mereka?!”

Anda merampas undangan pernikahan yang ada di tangan Mira dengan kasar. Sejurus kemudian, ia merobek undangan itu kecil-kecil. Sampai tak terbaca dan memang belum sempat ia baca.

“Anda! Keterlaluan banget sih!”

“Kamu yang keterlaluan. Pergi sekarang! Atau aku panggilin satpam!”

“Aku tahu kamu marah. Tapi Andi gila Nda!!, aku nggak mungkin nikah sama dia!”

“Tutup mulutmu! Andi gila karena kamu yang nggak tahu diri!!”

Mira segera masuk ke dalam mobil dengan hati yang mengkal. Anda berusaha mengatur napas. Masuk ke dalam mobilnya dan meluncur menuju garasi.

Masih dengan hati yang sangat kesal Anda masuk ke dalam rumah. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Ada suara ribut-ribut di dalam kamar dekat ruang tamu.

“Andi, ayo Nak minum obatnya. Supaya kamu lebih tenang”

“Aku nggak mau Mah”

“Ayolah sayang. Mamah mohon”

“Cukup Mah cukup. Aku nggak gila!! Jangan paksa aku minum obat!”

Kemudian terdengar suara gelas dibanting ke arah pintu. Disusul dengan suara isakan seorang perempuan paruh baya. Anda bergegas mendekat. Namun, belum sampai masuk ke dalam kamar, ia mengaduh. Kakinya tak sengaja menginjak pecahan gelas yang berserakan. Flatshoes yang digunakannya tak mampu menghalangi pecahan gelas yang tajam itu. Darah mengucur dari telapak kaki Anda.

“Anda, Ya Gusti!! Kamu nggak apa-apa?” ibunya bertanya dengan cemas sembari menuntun Anda ke sofa. Anda hanya meringis. Kakinya terasa perih.
Braaakkk.. suara pintu kamar yang tadi ribut-ribut dibanting dari dalam. Ibunya tak peduli.

“Mbak Inah, tolong ambilkan kotak P3K!”

“Baik Bu” perempuan berusia 30-an yang dipanggil Mbak Inah itu pun bergegas mengambil kotak P3K, kemudian memberikannya pada sang majikan.

“Sudah, biar saya yang perban Anda. Mbak Inah tolong beresin pecahan gelasnya saja ya. Hati-hati”

“Baik Bu”

Selesai memasang perban pada luka Anda, ibunya menghela napas panjang. Menatap Anda, membelai rambutnya.

“Dulu waktu mamah tahu kalau mamah mengandung janin kembar, rasanya mamah bahagia sekali Nda. Apalagi waktu dokter bilang kalau janin mamah ini sepasang, laki-laki dan perempuan. Semua keluarga bahagia menyambut kelahiran kalian. Apalagi papah, setelah kalian lahir sampai tidak tidur bermalam-malam demi menjaga kalian”

Ceritanya terpotong. Air mata hangat menitik dari pipinya yang mulai keriput.

“Diandra Alfira dan Deandri Alfero, nama yang indah. Nama itu disiapkan jauh-jauh hari oleh papah. Tapi, karena cukup panjang untuk sebuah panggilan, akhirnya kami memilih memanggil kalian Anda dan Andi. Lebih mudah diucapkan lidah orang Jawa to?”

Anda tersenyum menikmati cerita masa kecilnya.

“Mamah berjuang keras mendidik kalian. Terlebih saat papah harus berpulang. Awalnya berat sekali bagi mamah. Tapi, demi kalian, mamah tidak akan menyerah. Hingga sekarang, ada orang yang tega menghancurkan kebahagiaan Andi. Hati mamah sakit Nda. Sakit sekali”

Mata Anda berkaca-kaca. Ia merengkuh tubuh ibunya. Memeluknya. Semakin lama, semakin erat. Hingga Anda tertidur, masih memeluk ibunya.

Pukul 3 sore, Anda masih tertidur di sofa. Tapi ibunya sudah beranjak sedari tadi, membiarkan Anda terlelap, tak tega membangunkan. Belaian lembut dari seseorang lah yang kemudian membangunkan Anda. Pelan Anda membuka mata, menerka-nerka siapa yang membelainya. Rupanya Andi, laki-laki yang tadi melempar gelas hingga pecahannya melukai kaki Anda.

“Eh, Kak Andi” Anda menatap tak percaya.

“Maaf ya, gara-gara kakak, kamu jadi luka gini” Andi menunduk, merasa bersalah.

“Nggak apa-apa kok. Anda juga salah, jalan nggak lihat-lihat. Lagian ini cuma luka kecil. Mamah aja yang terlalu khawatir”

Andi tersenyum.

“Kak Andi. .” Anda ragu-ragu untuk meneruskan kalimatnya.

“Ya?”

“Jangan marah sama Mamah ya. Mamah sayang banget sama Kak Andi”

Andi tersenyum, mengangguk. Kemudian tanpa bisa diterka, Andi melakukan sesuatu yang sudah dilupakannya selama beberapa bulan ini: memeluk saudara kembarnya, Anda.

Bu Ratna yang sedari tadi mengintip percakapan kedua permata hatinya tersenyum bahagia. Matanya yang teduh berkaca-kaca. Pemandangan seperti ini sangat dirindukannya, dan sekarang ia dapat melihatnya lagi.

Kondisi Andi berangsur membaik. Ia tidak perlu lagi mengonsumsi obat penenang, buat apa? Sekarang ia sudah tidak pernah mengamuk lagi. Psikolog yang menanganinya juga mengatakan bahwa kondisi Andi seminggu terakhir menunjukkan kemajuan pesat. Keinginannya untuk kembali ke bangku kuliah juga sudah disampaikan pada ibunya. Kebahagiaan datang lagi menyelimuti keluarga Anda. Siang itu si kembar sedang duduk bersantai dengan ibunya. Kebersamaan yang sudah lama hilang, setidaknya selama beberapa bulan terakhir.

“Nda, kamu ingat Pak Danu? Teman papah dulu itu”

“Ingat Mah, ada apa?”

“Lusa, anak pertamanya menikah”

“Oh ya? Mas Reno itu kan Mah?”

“Nah iya Nda”

Hening. Anda hanya mengangguk. Entah apa tujuan ibunya membicarakan ini. Tapi, sorot mata Andi berbeda. Ia yang sedari tadi tenang, mendadak cemas.

“Mah, Andi ke belakang dulu ya”
Andi beranjak dari kursinya. Meninggalkan Anda dan ibunya berdua.

“Nda, Pak Danu kan punya anak lagi. Usianya nggak jauh sama kamu. Kemarin mamah ketemu sama mereka”

“Revan maksud Mamah?”

“Iya betul. Revan pengen kamu nemenin dia ke acara nikahan kakaknya. Dia malu, masak nggak punya pasangan. Mamah nggak bisa dateng Nda, Mamah ada janji sama tante kamu, mau bantuin bikin kue, pesenannya banyak banget. Kasihan”

Anda tertawa.

“Lusa kan Mah? Anda bisa kok”

Ibunya tersenyum. Sebenarnya ini semua bukan rencana Revan, tapi rencana Bu Ratna dan Pak Danu sendiri. Mereka sudah kenal sejak lama, apa salahnya menjadi besan, begitu pikirnya. Namun, semuanya tidak sesederhana itu.

***

Hari itu, Revan menjemput Anda di rumahnya. Selama ini Anda dan Revan hanya sebatas tahu nama saja. Tidak lebih. Dari balik pintu, Andi menatap Revan dan saudara kembarnya. Ada kesedihan dalam matanya. Tapi ia memutuskan diam. Menutup pintu kamarnya, menyendiri.

Sepanjang perjalanan ke gedung lokasi pesta pernikahan, Revan lebih banyak bicara. Ia sosok yang humoris dan mudah bergaul. Tak pelak, Anda nyaman berbicara dengannya. Lima belas menit berlalu tanpa terasa, mereka sampai di lokasi. Tamu-tamu sudah banyak yang berdatangan. Anda turun dari mobil, mengamatai beberapa tamu yang datang. Sebagian wajah mereka tidak asing bagi Anda, bahkan beberapa adalah teman kuliahnya.

“Hei Diandra! Sama siapa tuh?”
Seorang teman kuliah menegur Anda.

“Ah iya, ini Revan, temen kok”

Revan melambaikan tangan pada teman Anda.

“Deandri mana? Kok nggak ikut?”

Anda terkesiap, Andi? Kenapa temannya menanyakan Andi? Bukankah ini pesta pernikahan kakak Revan. Mereka seharusnya tak menanyakan Andi.

“Ee, Deandri di rumah. Kebetulan Mamah pergi, jadi dia jaga rumah”

Anda menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ada yang tak beres.

Celaka, semuanya memang tak beres. Baru beberapa langkah menuju pintu utama ruang resepsi, Anda terbelalak menatap karangan bunga yang dipajang berderet-deret. Bukan karena terpesona, tapi karena tak percaya dengan matanya sendiri. Anda mengucek matanya. Tidak salah lagi. Karangan bunga berderet-deret itu bertuliskan ucapan selamat menempuh hidup baru bagi pasangan Reno Danusetya dan Indah Namira. Benar-benar celaka. Itu adalah nama Mira, perempuan yang telah menghancurkan hidup saudara kembarnya. Sial. Bahkan sekarang dia sendiri sedang berjalan menuju resepsi itu, bersama adik kandung sang mempelai pria. Lelucon macam apa ini. Anda mengutuk dirinya. Mengapa ia tak menyempatkan diri membaca nama dalam undangan yang diberikan Mira sebelum merobeknya. Anda berdiri mematung, tak pelak Revan menjadi bingung.

“Anda, ayo masuk. Kok berhenti di sini?” Revan menggandeng lengan Anda.

“Tidak, aku harus pulang Van. Maaf”

Anda melepas sepatu hak tinggi yang mengganggu langkahnya. Menentengnya, berlari menuju jalan raya. Revan yang kebingungan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia bergegas mengejar Anda.

“Tunggu Nda!”

Anda tak peduli. Ia berlari semakin kencang. Beruntung ada taksi yang baru saja mengantar penumpang ke gedung tempat resepsi itu. Anda buru-buru masuk ke dalam, menyuruh sopir  segera memacu taksinya. Revan segera mengambil mobilnya yang baru saja terparkir. Memacu mobil dengan kecepatan tinggi, mengejar Anda. Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Revan. Hanya Anda yang mampu memberinya jawaban. Tapi sayang, Revan tak pernah mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya.

Anda sampai di rumah. Bergegas masuk ke dalam. Melemparkan sepatunya sembarangan. Kemudian masuk ke kamar, pintunya ditutup dengan kasar. Andi yang menyadari kedatangan Anda sudah bisa menebak apa yang terjadi. Berbeda dengan Bu Ratna yang baru saja tiba, wajahnya tampak ditekuk karena baru saja melihat tragedi kecelakaan maut di jalan. Ia tambah berkerut karena menatap sepatu Anda yang terlempar sembarangan di lantai. Bu Ratna hendak masuk ke kamar Anda, bertanya apa yang terjadi. Namun, Andi sudah berdiri di depan pintu kamar Anda.

“Biar Andi aja Mah”

Andi tersenyum menatap ibunya yang kebingungan. Bu Ratna membiarkan Andi masuk ke dalam kamar Anda. Sementara ia, seperti biasa, akan mengintip dari balik pintu.

“Kak. .” suara Anda lemah. Ia terisak.

“Aku udah tahu kok Nda” Andi tersenyum, duduk di tepi ranjang Anda.

Sementara Anda, menatap Andi dengan tatapan tak mengerti.

“Dulu, saat pertengkaran hebat itu terjadi, saat Mira memilih laki-laki pemilik perusahaan itu untuk menikahinya dengan alasan kakak masih kuliah, ia tidak mau menunggu, kakak sempat lihat Revan ada di sana. Tapi sepertinya Revan nggak lihat kakak”

Apa? Apa maksudnya ini? Anda bertanya dalam diam.

“Awalnya kakak pikir, Revan hanya kebetulan ada di sana. Ternyata enggak. Dia nemenin kakaknya yang saat itu ribut-ribut sama kakak. Ya, kakaknya Revan yang sekarang jadi suami Mira. Tapi waktu itu Revan hanya nunggu di luar. Jadi, dia nggak tahu kalau yang ribut sama kakaknya itu kakak”

“Kenapa Kak Andi diem aja waktu mamah nyuruh aku dateng ke pesta itu?!”

“Ada banyak kebahagiaan mamah yang hilang sejak kakak depresi. Kakak nggak mau nyakitin mamah lagi. Mamah kelihatan bahagia waktu nyuruh kamu pergi sama Revan. Jadi, kakak diem aja”

“Kak, aku nggak mau dekat sama orang yang kakaknya udah hancurin hidup kakakku sendiri!”

“Tapi, kakak bisa lihat kalau Revan adalah laki-laki yang tulus. Dia beda dari Reno, Nda”

“Tapi. . .”

“Anda, berjanjilah sama kakak. Kamu jangan jauhin Revan hanya karena masalah ini. Setidaknya kalian bisa berteman baik”

Andi merengkuh saudara kembarnya yang masih terisak. Memeluknya erat. Bu Ratna yang sedari tadi mengintip dari balik pintu sudah tak kuasa menahan air mata. Ia merasa bersalah. Bagaimana mungkin anak dari teman dekat suaminya lah yang telah menghancurkan hidup anak laki-lakinya. Hidup terkadang memang seperti lelucon. Di sisi lain, Anda telah berjanji dalam hatinya untuk berteman dengan Revan seperti pesan Andi. Berhari-hari Anda menunggu kedatangan Revan. Namun, Revan tidak akan pernah sampai ke rumah Anda. Ia telah berpulang saat perjalanan mengejar Anda di hari pernikahan kakaknya. Sebuah kecelakaan maut yang dilihat Bu Ratna sepulang dari rumah tante Anda, itulah yang merenggut nyawa Revan beserta pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya. Ini adalah harga sebuah takdir yang tak bisa dibantah dengan kata-kata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KISAH 1

SEBUAH KISAH 1 oleh: Dilla Fitri Widowati Telah banyak noda yang ku gores pada nisanmu Hingga aku tak sanggup melihatnya Lihatlah diriku sekarang ini Ibu Betapa memilukan waktu yang terus mengejekku Aku tahu Takdir tengah mengujiku Dan permainan baru telah dimulai Tapi sudikah Tuhan menjawab doaku Untuk mengembalikan suaramu dalam ingatku Ku rasa tidak Ku rasa tak perlu Aku seringkali membait kisahku dalam sajak singkat Ku biarkan rentetan debu meramu dan membacanya Hingga suatu saat nanti titah ini akan sampai pada muara Di mana aku juga akan membait kisah ibuku yang sangat ku rindu Terlalu banyak yang ku bendung sendiri Tanpa tahu di mana harus ku bagi Atau pada siapa aku berbagi Datanglah malam ini Dan bujuklah fajar agar enggan kembali..

Angin dan Rinduku

ANGIN DAN RINDUKU oleh: Dilla Fitri Widowati Rinduku mengiba saat senja Menghitung langkah yang kau ayun Begitulah yang biasa ku perbuat Untuk membingkai rasa yang kian lekat Aku ingin bersandar dalam kemelutmu setiap saat merasakan detakmu Barangkali ada namaku di situ Aku seperti halnya debu Membuntuti langkahmu setiap waktu Selamanya akan tetap begitu Meski angin menerpaku dengan hembusan tanpa jeda waktu..

Dilla Fitri Widowati : Senja II

SENJA II oleh: Dilla Fitri Widowati Rimba cahaya merah saga Merambah semesta saat senja Dalam balut duka di penjara Debur semangat membahana Lentera memancar semburat dari matanya Memaku segala derita Membuncah dari laguna sukma      Lukisan tanda bahagia              Menyusup dalam benak Nama indahnya melebur dalam setiap doa Putri kusuma, ayu bakti lan setiti Itulah sang kartini Bias bias nya kan merambah Untuk langkah generasi yang merekah..