Langsung ke konten utama

CERPEN : MENGASUH KEBAHAGIAAN

MENGASUH KEBAHAGIAAN
Oleh: Dilla Fitri Widowati

Aku terperanjat ketika Dinda, putriku yang kini tengah duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar mengajukan sebuah pertanyaan padaku. Sore itu, aku sedang berdiri melamun menghadap jendela, menyaksikan kerumunan awan sisik mengekor angin ke barat. Pertanyaan Dinda yang singkat, padat, dan menohok, tak ayal membuatku tergagap.

“Ibu, kenapa diam saja?” Dinda kembali bertanya.
“Dinda, sore ini dingin sekali. Ibu harus menyiapkan air hangat untukmu mandi. Kalau tidak, putri ibu yang cantik ini bisa masuk angin”.

Aku tak tahu harus bilang apa pada Dinda. Aku berlalu, bukan ke dapur untuk merebus air, tetapi ke kamar untuk menumpahkan air. Air mata yang kutahan sedari tadi.

Sebenarnya pertanyaan Dinda sangat sederhana. Dia hanya menanyakan mengapa orang tuanya tak punya foto pernikahan. Tapi, untuk pertanyaan sesederhana itu, aku tak punya jawaban untuknya. Air mataku tumpah ruah. Diiringi hujan yang tiba-tiba turun tanpa ampun.

***

Aku adalah ibu dari dua orang anak. Namun, di rumah ini, Dinda menjadi anak tunggal. Padahal sebenarnya, Dinda memiliki seorang kakak laki-laki. Hampir 20 tahun yang lalu aku menikah dengan suamiku. Sebuah pernikahan yang penuh liku. Aku adalah putri dari seorang juragan tempe, yang memiliki tanah di mana-mana, kuda-kuda yang menawan, dan tentu saja pabrik tempe besar. Sedangkan suamiku, hanya memiliki rumah yang tak layak disebut rumah. Sudah tentu, pernikahan kami tak mendapat restu, terutama dari pihak orang tuaku. Namun, karena cinta tak dapat lagi diabaikan, kami berdua memutuskan untuk tetap menikah.

Pernikahan yang dramatis itu terjadi di pulau seberang, pulau Kalimantan. Kami mengumpulkan uang secara diam-diam untuk pergi ke Kalimantan. Pernikahan itu amat sederhana dan bertempat di rumah salah seorang kerabat. Itulah alasan mengapa tak ada dokumentasi sama sekali. Kami tak sempat memikirkan itu. Namun kini, selembar foto rupanya sangat berharga untuk putriku, Dinda. Di usianya yang baru menginjak 9 tahun, aku tak mungkin menjelaskan peliknya situasi saat pernikahan itu padanya.

Keadaanku sangat sulit, terlebih setelah aku dan suamiku kembali ke pulau Jawa. Kami tak punya pilihan lain selain tinggal di rumah orang tua suamiku. Jangan tanya soal respon mereka, sudah tentu tidak baik. Hari-hari kujalani dengan penuh tekanan. Bukan dari mertuaku, tetapi dari kakak iparku. Aku masih sedikit beruntung karena mertuaku mampu menerima kehadiranku, terlebih ketika dia tahu aku sedang hamil. Maklum saja, kakak iparku yang telah lebih dulu menikah selama beberapa tahun, belum menunjukkan tanda-tanda akan memberi cucu untuk mertuaku itu. Segera, mertuaku menjadikanku anak kesayangannya.

Kakak iparku yang sedari awal tak menyukaiku semakin membenciku. Kebencian itu dia tunjukkan dengan cara tak menganggapku ada. Tak pernah sekali pun dia menyapaku. Aku sangat asing di rumah itu. Berkali-kali aku ingin pergi saja, namun aku tak punya tujuan, terlebih dengan kondisiku yang tengah mengandung ini. Suamiku hanyalah seorang pekerja serabutan. Uang hasil kerjanya hanya cukup untuk makan sehari-hari, untuk membeli rumah sendiri, itu hanya mimpi bagi kami.

***

“Mbak Marni mau belanja ya? Mau aku temani?” tanyaku pada kakak iparku.
“Nggak usah, kamu jalan saja susah, kok mau nemenin, yang ada malah kamu bikin aku repot Ris” ucapnya sambil berlalu.

Aku terdiam. Kandunganku memang sudah memasuki usia menjelang kelahiran. Tapi, aku masih cukup kuat untuk sekadar membantu membawakan barang belanjaan sayuran dari pasar. Aku mencoba untuk tidak berprasangka buruk. Mungkin saja Mbak Marni khawatir padaku.

Keesokan harinya, tepatnya setelah sholat subuh, perutku mengalami kontraksi hebat. Kurasa, bayi ini sudah waktunya keluar. Buru-buru suamiku menyambar sepeda bututnya, memboncengku menuju rumah bidan yang tak jauh dari gubuk kami. Proses kelahiran bayiku lancar. Bayi mungil itu laki-laki, tampan sekali.

Beberapa hari menginap di rumah bidan, hanya suami dan mertuaku yang datang menungguiku. Aku sempat bertanya pada mertuaku, di mana Mbak Marni, katanya di hari kelahiran bayiku, Mbak Marni justru pergi ke tempat orang tua suaminya, hingga saat ini dia masih tinggal di sana. Sedikit banyak, aku tahu apa yang dia rasakan. Mungkin saja dia tak sanggup melihat kebahagiaanku memiliki seorang anak. Aku tahu, kemalangan telah menimpanya sejak bertahun-tahun lalu.

Hari ini, aku diizinkan pulang oleh bidan. Aku senang sekaligus takut. Senang karena sudah bisa membawa bayiku pulang, takut karena membayangkan sikap Mbak Marni yang bisa saja semakin membenciku. Sampai di rumah, Mbak Marni rupanya sudah pulang. Seperti biasa, dia tidak menyapaku.

***

Tiga bulan berlalu. Siang itu aku sedang menidurkan Danang, putraku yang sangat lucu. Suamiku baru pulang bekerja. Itulah awal perubahan hidup kami.

“Risma, aku ingin merantau ke Malaysia. Kamu dan Danang tinggallah di sini sampai aku mampu mengumpulkan uang untuk membeli rumah sendiri. Aku tahu, kamu tidak bahagia tinggal di sini”
“Kamu serius Mas? Tapi, aku takut”
“Jangan takut, ibuku akan menjagamu”
“Mas, kamu mau bekerja apa di sana? Butuh waktu berapa lama agar uangmu cukup untuk membeli rumah? Kurasa semua akan lebih baik jika aku membantumu. Aku istrimu, aku akan ikut denganmu. Kita akan bekerja bersama”
“Tapi Danang?”
“Jika ibumu bisa menjagaku dengan baik, dia juga akan menjaga Danang dengan baik bukan?”
Entah mengapa semua itu terjadi sangat cepat. Tiba-tiba saja aku sudah berada di Malaysia bersama suamiku. Aku sedang duduk, memandangi foto Danang yang kutinggalkan di tanah air. Danangku sayang, aku merindukanmu.

***

Sore itu kebahagiaanku memuncak. Setelah hampir 5 tahun kutinggalkan, akhirnya aku akan bertemu dengan putraku, Danang. Sudah kubelikan berupa-rupa mainan dan pakaian untuknya. Setelah bekerja sangat keras, aku dan suamiku mampu membeli tanah yang cukup luas dan akan segera membangun rumah kami sendiri.

Sesampainya di rumah mertuaku, langsung kucari Danang. Rupanya dia sedang bermain di belakang rumah. Kugendong putraku yang kini semakin gendut itu. Kuciumi pipinya. Dia pun tertawa kegirangan. Ahh, tak ada yang lebih membahagiakan selain bisa berkumpul dengan anak tercinta. Namun, aku tak menyesal telah meninggalkannya, sebab aku telah berjuang untuk kebahagiaannya di masa depan.

Sejurus kemudian, bagai kilat menyambar tanpa adanya hujan, dari mulut mungil Danang keluar kata-kata yang membuat dadaku sesak.

“Bibi, aku harus menemui ibuku. Katanya aku harus mandi sebelum jam 5 sore”
“Ibu? Siapa ibumu Nak?”

Sebelum menjawab, dia meminta turun dari gendonganku, kemudian berlari menuju arah perempuan yang tak asing bagiku, namun selalu menganggapku asing. Ya, dia adalah kakak iparku, Mbak Marni.

“Ris, kuperingatkan padamu, Danang adalah anakku, kau meninggalkannya 5 tahun lalu, sejak saat itu dia menjadi milikku”
Aku tak menjawab, air mata deras membanjiri pipiku.
Belakangan aku tahu, bahwa Mbak Marni telah mengakui Danang sebagai anaknya. Dia sangat memanjakan Danang. Sungguh sebuah ironi, saat Danang lahir, menjenguk pun tidak. Kini bahagiaku hancur sudah. Aku seperti kehilangan tujuan hidup. Kuberi tahu suamiku bahwa aku ingin kembali ke Malaysia. Menjauh dari semua kehancuran yang mengoyak jiwaku karena kehilangan seorang anak. Suamiku tak banyak bicara, namun aku tahu dia juga hancur. Akhirnya kami kembali ke Malaysia dan setahun kemudian aku mengandung Dinda.

Ketika Dinda lahir, rumah kami telah jadi. Aku dan Dinda kecil segera menempatinya bersama dua pengasuh khusus untuk Dinda. Sementara suamiku masih harus menyelesaikan kontrak kerja di Malaysia. Aku sengaja membayar dua pengasuh untuk Dinda, aku seperti memiliki trauma jika anakku dipegang oleh orang lain. Tak boleh sembarangan orang menyentuh Dinda, terutama kakak iparku.

Kupandangi Dinda yang tiba-tiba sudah duduk di sampingku yang sedang melamun. Kupeluk Dinda dengan erat. Dia tersenyum, manis sekali.

“Ibu, kurasa aku tidak perlu air hangat untuk mandi. Cukup dengan pelukan Ibu saja sudah membuatku sangat hangat”
“Soal foto itu. .”
“Ahh sudahlah Ibu, itu tak perlu dijawab, Ibu selalu menangis jika aku menanyakan foto pernikahan. Maafkan aku”

Kupeluk Dinda semakin erat. Memang benar, ketika Tuhan mengambil satu kebahagiaan, Dia akan mengirim kebahagiaan lain untuk datang. Tentang seberapa lama kebahagiaan itu bertahan, tergantung kepandaian kita dalam mengasuhnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KISAH 1

SEBUAH KISAH 1 oleh: Dilla Fitri Widowati Telah banyak noda yang ku gores pada nisanmu Hingga aku tak sanggup melihatnya Lihatlah diriku sekarang ini Ibu Betapa memilukan waktu yang terus mengejekku Aku tahu Takdir tengah mengujiku Dan permainan baru telah dimulai Tapi sudikah Tuhan menjawab doaku Untuk mengembalikan suaramu dalam ingatku Ku rasa tidak Ku rasa tak perlu Aku seringkali membait kisahku dalam sajak singkat Ku biarkan rentetan debu meramu dan membacanya Hingga suatu saat nanti titah ini akan sampai pada muara Di mana aku juga akan membait kisah ibuku yang sangat ku rindu Terlalu banyak yang ku bendung sendiri Tanpa tahu di mana harus ku bagi Atau pada siapa aku berbagi Datanglah malam ini Dan bujuklah fajar agar enggan kembali..

Angin dan Rinduku

ANGIN DAN RINDUKU oleh: Dilla Fitri Widowati Rinduku mengiba saat senja Menghitung langkah yang kau ayun Begitulah yang biasa ku perbuat Untuk membingkai rasa yang kian lekat Aku ingin bersandar dalam kemelutmu setiap saat merasakan detakmu Barangkali ada namaku di situ Aku seperti halnya debu Membuntuti langkahmu setiap waktu Selamanya akan tetap begitu Meski angin menerpaku dengan hembusan tanpa jeda waktu..

Dilla Fitri Widowati : Senja II

SENJA II oleh: Dilla Fitri Widowati Rimba cahaya merah saga Merambah semesta saat senja Dalam balut duka di penjara Debur semangat membahana Lentera memancar semburat dari matanya Memaku segala derita Membuncah dari laguna sukma      Lukisan tanda bahagia              Menyusup dalam benak Nama indahnya melebur dalam setiap doa Putri kusuma, ayu bakti lan setiti Itulah sang kartini Bias bias nya kan merambah Untuk langkah generasi yang merekah..