Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

KELAK, DI SUATU MASA

KELAK, DI KEMUDIAN MASA Oleh: Dilla Fitri Widowati Tajuk pagiku sejernih binar di mata teduhmu Membingkai rasa yang tumbuh dilumuri embun Kadang aku melihatmu di ujung pagi Kadang aku mendengarmu dititah siang Lalu, malam memikatmu jadi hikayatnya Seperti waktu yang selalu menyertakan sosokmu Aku pun, adalah noktah kecil yang setia meramu kisah denganmu Kelak, di kemudian masa yang memaku setia tanpa cela Namaku dan namamu akan bertasbih serentak Memuja Maha Cinta Di antara megah kuasa dan ridho-Nya Surakarta, 30 November 2016

PAGI PERTAMA [YANG DINGIN]

PAGI PERTAMA [YANG DINGIN ] Oleh: Dilla Fitri Widowati Cintaku sederhana Hanya terjatuh di hatimu Lalu mendarat dengan sempurna tanpa cedera Aku ingin ada di sana Memonopoli waktumu barang sesaat Cukupkah perkenalan singkat itu? Cukupkah rasa yang muncul malu-malu? Sedingin pagi yang membait kekaguman pertamaku Sesederhana itu aku terjatuh dalam rengkuhmu Angin menyeruak Mencoba menghambur bersama rasa yang kian semarak Temui aku di ujung senja Kan ku bawa kau ke muara Tempat rindu dan hasratku menelaah bakal cinta

BEGITU SAJA

BEGITU SAJA oleh: Dilla Fitri Widowati Sebuah cinta tercipta saat mata terbuka Dan bau kasih semakin nyata Lalu, apa alasanku mematung di sini? Membaui embun berdesir dengan angin Senyum yang dibingkai kisah tak terduga, Rasa yang muncul begitu saja, Dan doa serta semoga Baru aku menyadari relung takdir telah membuka rongga tak terjamah Lalu, dengan sengaja menasbihkan namamu jadi pengisinya Aku tak suka takdir main-main Aku takut kalut dan jadi pesakitan dalam teka-teki waktu Jadi, jemput aku jika kau bersedia Atau, tetap di sana Agar dapat kunikmati senyummu tanpa cinta yang melenggang lara Surakarta, 03 November 2016

JODOH?

JODOH oleh: Dilla Fitri Widowati Jodoh? Akan terlalu naif jika ku sebut detik ini Sepertinya rembulan mulai menertawaiku Sebab ranting rindu telah rapuh Bahkan patah sebelum jatuh tercecar Cerutu di pagi hariku telah abu Apa itu pengorbanan? Akan terlalu naif jika kukatakan detik ini Sebab waktu telah membungkam rasaku yang sayu Hingga aku harus lagi membuai semak Yang di dalamnya bersarang neraka bernama kecewa Pergilah jika kau enggan bernaung Akan kututup gerbang utama Seperti kau melakukannya di hari lalu..

PUISI YANG DITULIS JAM DUABELAS MALAM

PUISI YANG DITULIS JAM DUABELAS MALAM oleh: Dilla Fitri Widowati Mencintaimu dalam diam Seperti deru keajaiban yang enggan padam Entah darimana biang percayaku Yang jelas, hingga detik kesekian, aku masih saja sudi menulis kelanjutan kisah kita Meski dimensi waktu telah mencipta rentang yang menua Di sela doaku Tertuang sebait harap bertabur namamu Meski sejatinya udara tertawa Ketahuilah, hari milik kita akan berpulang nanti.. Surakarta, 27 Agustus 2016

AYAH, Begitu Aku Memanggilmu

AYAH, Begitu Aku Memanggilmu (untuk Ayahku, yang terus berjuang buatku seorang) oleh: Dilla Fitri Widowati Tak terbayang Aku akan bertempur sendirian, selama delapan rotasi musim ke depan Aku yang hanya suka berandai Akan membait kisah baru yang sangat tak ku tahu Kini semua memaksa Hingga aku sulit mengenali ritme nadiku sendiri Saat waktu mulai curiga padaku Aku biasa memalingkan muka padamu Tapi, selama delapan musim itu Kau pun akan jauh dariku Aku tahu Ayah.. Sepanjang usiaku Tak pernah sanggup ku utarakan rasa sayangku Hingga ku sadari, kini aku tetap jadi putri kecilmu Kau bukan saja ayah Bahkan lebih dari seorang ibu bagiku Maaf Ayah.. Aku tak menulis banyak kiasan Sebagaimana yang sering ku toreh dalam syairku Karena ini bukanlah syair Dan juga karena tak ku temukan kiasan yang mampu melukis sosokmu Ayah.. Aku akan kembali kelak Bersama asa yang kau titip di bahuku Tapi, asa itu akan ku ubah lebih dulu Menjadi gurat bahagia yang kan ku semat dalam...

PENYESALAN KESEKIAN

PENYESALAN KESEKIAN oleh: Dilla Fitri Widowati Aku menyesal telah menjadikanmu alasan untuk bertahan di tengah rimba ini Bahkan kau tak memberiku jawab walau sepatah Aku sangat lelah hingga mata angin pun tak menunjukki ku jalan yang jelas Hari ini, aku telah tahu bahwa pucuk embunku yang sayu telah menguap bersama waktu Entah apa yang sedang menghujamku Ngilu ini tepat sampai rusuk Jangan menanyaiku lagi Karena tanpa kau berucap, aku telah berbisik seribu kali..

SEBUAH KISAH 1

SEBUAH KISAH 1 oleh: Dilla Fitri Widowati Telah banyak noda yang ku gores pada nisanmu Hingga aku tak sanggup melihatnya Lihatlah diriku sekarang ini Ibu Betapa memilukan waktu yang terus mengejekku Aku tahu Takdir tengah mengujiku Dan permainan baru telah dimulai Tapi sudikah Tuhan menjawab doaku Untuk mengembalikan suaramu dalam ingatku Ku rasa tidak Ku rasa tak perlu Aku seringkali membait kisahku dalam sajak singkat Ku biarkan rentetan debu meramu dan membacanya Hingga suatu saat nanti titah ini akan sampai pada muara Di mana aku juga akan membait kisah ibuku yang sangat ku rindu Terlalu banyak yang ku bendung sendiri Tanpa tahu di mana harus ku bagi Atau pada siapa aku berbagi Datanglah malam ini Dan bujuklah fajar agar enggan kembali..

Angin dan Rinduku

ANGIN DAN RINDUKU oleh: Dilla Fitri Widowati Rinduku mengiba saat senja Menghitung langkah yang kau ayun Begitulah yang biasa ku perbuat Untuk membingkai rasa yang kian lekat Aku ingin bersandar dalam kemelutmu setiap saat merasakan detakmu Barangkali ada namaku di situ Aku seperti halnya debu Membuntuti langkahmu setiap waktu Selamanya akan tetap begitu Meski angin menerpaku dengan hembusan tanpa jeda waktu..

KITA DAN CAKRAWALA

KITA DAN CAKRAWALA oleh: Dilla Fitri Widowati Reranting untaian waktu Menghujamkan bait senyummu Di balik tirai masa yang membubuhkan segala risau Kepada angin yang berhembus malu-malu. Sepertinya baru hari lalu Mega menyapa kita saat terduduk di tengah kota Kita bermahkota harap Angkasa menjadi atap tempat doa mengiba Arus kehidupan mengukir berjuta lekuk di bias wajahmu Selengkung senyum senantiasa membingkai satu demi satu, Langkah yang menerobos kabut abu-abu Kali ini aku akan melukiskan garis-garis setapak yang pernah kita jejaki Garis semu yang membayang dalam nafas dan detak Mungkin sosokmu akan tenggelam seiring terbenamnya fajar Tapi hikayat tentangmu akan mengorbit sepanjang masa di tepian cakrawala..

HARI INI, APIN BERLARI

HARI INI, APIN BERLARI oleh: Dilla Fitri Widowati *selamat jalan Apin -kucingku tersayang- semoga kau bahagia di surga Hari ini, akhirnya kau jadi jasad ketiga Ingatkah saat keluguan itu memaku sajakku? Atau saat mataku lekat menerka tingkahmu Rasanya kini aku takut Meski hanya berhadapan dengan secangkir kenangan Aroma duka itu tajam menusuk sampai rusuk Hingga waktuku sesak menelannya Tuhan mungkin telah mengabulkan Doa yang tercurah saat senja tiba Telah dibawa engkau Menuju haribaan-Nya Kemarin baru saja aku meminta agar kau berlari Kini kau benar-benar pergi Dengar aku, Malam ini sangat dingin, Aku terus saja menulis sajak Sesuai baris kenangan kita Bahkan aku menitipkan kasih Yang mungkin sampai padamu saat fajar nanti

LARILAH APIN

LARILAH APIN oleh: Dilla Fitri Widowati *untuk Apin -kucingku yang sedang sakit- aku menyayangimu Saudaramu mungkin sedang berkejaran Katakan padaku, apa kau juga? Larilah Apin Lari secepat yang kau mampu Tunggu, kenapa kau masih diam? Jangan buat jasadku kaku Membiru membaur deritamu Kau punya dua pilihan dalam detak itu diam bersamaku, atau pergi bersama waktu Tapi kau masih saja bisu Nafas tersengal, mata kuyu, dan pilu Aku mengenalmu sekian detik lebih lama Mungkin kau lelah mendengar kelakarku? Katakan saja padaku Apin Aku akan bungkam Aku hanya ingin sampaikan satu hal padamu Jangan menyiksaku untuk duka seperti abu Jangan memaksaku menyayat uratku yang lesu Bahagia menantimu Apin Sungguh tiada sesal yang kan kau bagi Di sisa waktu malam nanti

Dilla Fitri Widowati : Senja II

SENJA II oleh: Dilla Fitri Widowati Rimba cahaya merah saga Merambah semesta saat senja Dalam balut duka di penjara Debur semangat membahana Lentera memancar semburat dari matanya Memaku segala derita Membuncah dari laguna sukma      Lukisan tanda bahagia              Menyusup dalam benak Nama indahnya melebur dalam setiap doa Putri kusuma, ayu bakti lan setiti Itulah sang kartini Bias bias nya kan merambah Untuk langkah generasi yang merekah..

Dilla Fitri Widowati : Untukmu yang datang sesaat

UNTUKMU YANG DATANG SESAAT oleh: Dilla Fitri Widowati Untukmu yang datang sesaat Menyapa takdirku yang masih kelabu Aku merindukan tawamu Yang makin sulit kuingat Masa telah habis berselang Hingga malam pun menyanyikan lagu barunya Kemana nada yg kucipta? Sepertinya aku pun lupa Desir bayu seakan tau Sekat telah mencipta rasa yang ungu Aku masih saja menantimu Meski fajar telah mengintip malu-malu Begitukah denganmu? Gurat takdir telah merengkuh langkahmu Seperti halnya aku Yang telah menjauh dari kelabu dan ungu Aku mnitipkan salam pada mega Ku pikir ia akan bermuara pada senja Kelak, camar di tepi dermaga Akan menyampaikannya padamu Meski senja tak lagi sama

Dilla Fitri Widowati : Puisi SENJA I

SENJA I oleh: Dilla F. Widowati Kemarin senja datang kepadaku Menyapu wajahku dengan semburat warna ungu Aku seperti camar Menanti senja meringkuk Untuk sekedar bercumbu dengan malam Rasi bintang bertakhta sinar bulan Memapah ringkih kemelutku menuju alam raya Jalan masih membentang Hingga kelak aku rampung menitinya Seperti gejolak masa depan yang berpeluh Jiwa mudaku tak patut mengaduh Pacuan gemuruh semakin memburu Ini saatnya peluru menderu syahdu Yang muda terus menatap maju ..