Langsung ke konten utama

JILBAB MERAH MUDA

JILBAB MERAH MUDA
Oleh: David Kurnia Wijaya

Semangat menggugah birahi nan suci
Melangkah menuju debur ombak tanpa niscaya
Sukacita merekah bersama sang surya
Samar-samar menyapu bumi
Yang dimulai dari ufuk timur

Beralaskan sepatu jero tapak meri
Kusibak rumpun embun tersusun rapi
Dan menyisakan tapak berjejer bak bulir padi

Kumasuki ruang hampa tanpa gema
Suara terserap padatnya serat sutera
Duduk paling belakang dan pojok
Bersila menanti wahyu tercurah

Ketika ego berimplikasi
Mataku melesat, terpaku pada jilbab merah muda,
berbaju motif kotak-kotak merah muda pula
yang duduk paling depan dan pojok kiri
Kepala tak dapat kutolehkan kekanan
Mencoba membuang perhatian
Sia-sia, tak ada guna tak ada bisa

Kambing, sebutan hangat kawan lama
Entah apa yang membuat dia disebut Kambing
Persetan dengan julukan itu!
Yang jelas, dia membuka ingatanku
Ingatanku terhadap kawan lamaku
“Kawan atau teman?”
Teman tapi mesra tepatnya
Eh..

Cuk asu!
Kenapa mekar dan harum sekali?
Kukira dia menjadi fosil dalam batinku
Tapi fosil itu memuai
Berubah jadi pahatan indah tanpa ragu
Dan menjadi candu

Vena, Rastakia Vena namanya
Gadis tomboi yang pernah dekat denganku
“Dekat?”
Tidak! Hanya sebatas teman

Gadis itu pernah mengenakan Jilbab merah muda
dan baju motif kotak-kotak
Parasnya mengubah doktrin yang kupunya

Dia selalu berbagi rasa denganku
Sampai aku tersipu melihat dia yang lugu
Jiwa serasa ingin menyatu bersama dirinya
Namun tak disangka
Ketika kuungkap semua rasa
Hanya dianggap hasutan canda

Berpapasan hanya membisu
Menjawab sekenanya
Menghindar tanpa irama
Aku menjauh dan menghapus dia dalam batinku

kalau bukan kerna kambing
wahyu sudah tercurah terhadapku
sumringah pasti merasuki kalbu
namun Kambing mencampuri urusan Ibu
dan aku jadi kosong seperti langit biru
hanya terukir gumpalan uap yang merindu

Blitar, 04 Maret 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEBUAH KISAH 1

SEBUAH KISAH 1 oleh: Dilla Fitri Widowati Telah banyak noda yang ku gores pada nisanmu Hingga aku tak sanggup melihatnya Lihatlah diriku sekarang ini Ibu Betapa memilukan waktu yang terus mengejekku Aku tahu Takdir tengah mengujiku Dan permainan baru telah dimulai Tapi sudikah Tuhan menjawab doaku Untuk mengembalikan suaramu dalam ingatku Ku rasa tidak Ku rasa tak perlu Aku seringkali membait kisahku dalam sajak singkat Ku biarkan rentetan debu meramu dan membacanya Hingga suatu saat nanti titah ini akan sampai pada muara Di mana aku juga akan membait kisah ibuku yang sangat ku rindu Terlalu banyak yang ku bendung sendiri Tanpa tahu di mana harus ku bagi Atau pada siapa aku berbagi Datanglah malam ini Dan bujuklah fajar agar enggan kembali..

Angin dan Rinduku

ANGIN DAN RINDUKU oleh: Dilla Fitri Widowati Rinduku mengiba saat senja Menghitung langkah yang kau ayun Begitulah yang biasa ku perbuat Untuk membingkai rasa yang kian lekat Aku ingin bersandar dalam kemelutmu setiap saat merasakan detakmu Barangkali ada namaku di situ Aku seperti halnya debu Membuntuti langkahmu setiap waktu Selamanya akan tetap begitu Meski angin menerpaku dengan hembusan tanpa jeda waktu..

Dilla Fitri Widowati : Senja II

SENJA II oleh: Dilla Fitri Widowati Rimba cahaya merah saga Merambah semesta saat senja Dalam balut duka di penjara Debur semangat membahana Lentera memancar semburat dari matanya Memaku segala derita Membuncah dari laguna sukma      Lukisan tanda bahagia              Menyusup dalam benak Nama indahnya melebur dalam setiap doa Putri kusuma, ayu bakti lan setiti Itulah sang kartini Bias bias nya kan merambah Untuk langkah generasi yang merekah..